KOMPAS.com – Jauh sebelum kepopuleran batik mencapai puncaknya beberapa tahun belakangan ini, keindahan batik sudah mampu memikat hati banyak orang di berbagai belahan dunia, termasuk Nia Fliam. Nia yang berkewarganegaraan Amerika ternyata tertarik untuk mendalami seni batik, bahkan sudah memelajari kebudayaan batik sejak masih kuliah di jurusan seni lukis, Pratt Institute, New York.

“Sejak tahun 1979 saya sudah suka batik, dan serius untuk menekuninya. Sayangnya belum ada guru yang bisa mengajarkan saya membuat batik di Amerika,” ungkap Nia kepada Kompas Female, dalam acara American Batik Exhibition di Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta, Selasa (21/2/2012) lalu.

Ketika menjalani kuliah batik selama satu semester, ternyata sang dosen pengajar tak mampu memuaskan keingintahuan Nia tentang batik. Dosennya hanya mengetahui tentang berbagai teknik pembuatan batik namun tak mendalaminya secara serius. Untungnya, Nia mendapatkan beasiswa dari Independent Study Program di Pratt Institute untuk belajar batik di Indonesia selama setahun pada tahun 1983.

Dalam proses belajar ini, Nia membuka sebuah sanggar batik di Yogyakarta untuk memelajari semua teknik membatik dari para pembatik. Karena keinginannya yang kuat untuk memelajari batik, tak ada kesulitan berarti yang dialami Nia untuk belajar dan beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. “Saya adalah seniman, bukan pengusaha batik. Jadi tak ada orang yang mempersulit saya,” kenangnya.

Setelah masa belajarnya hampir selesai, ia memutuskan untuk tidak kembali ke Amerika. Penyebabnya, ketika itu Nia bertemu dengan Agus Ismoyo, seorang seniman batik dari Yogyakarta, yang kini menjadi suaminya.

Setelah menikah, Nia dan Ismoyo berkolaborasi membangun sebuah galeri seni batik bernama Brahma Tirta Sari di Yogyakarta pada tahun 1985. Brahma Tirta Sari (BTS) memiliki makna kreativitas sebagai sumber dari semua pengetahuan. Sejak kolaborasi ini dibentuk, Ismoyo dan Nia pun berkomitmen untuk selalu menampilkan nilai-nilai tradisional Indonesia dalam berbagai karya mereka.

Berkat keseriusan mengelola studio batik ini, mereka diajak bekerjasama oleh berbagai pihak, antara lain dengan seniman dari Australia, Amerika, dan negara-negara Asia lainnya, untuk memperkenalkan batik Indonesia ke dunia.

Batik adalah pengabdian
Setelah mendalami batik selama 27 tahun, Nia menyadari bahwa batik bukanlah sekadar goresan motif di selembar kain, namun lebih mengacu pada proses pembuatan motif pada kain dengan menggunakan lapisan malam. Bagi Nia, batik memiliki banyak daya tarik sekaligus misteri. “Ketika membuat sebuah karya, agak sulit untuk menerka hasil yang akan dihasilkan karena tertutup malam. Kadang hasilnya memuaskan, namun kadang juga mengecewakan setelah di-lorod (proses melunturkan malam saat pencucian, RED). Namun proses batik itu punya kedalaman dan makna tersendiri yang membuat ketagihan,” ujarnya.

Makna sakral pada batik dan kepuasan ketika menciptakan batik membuatnya tak terburu-buru untuk menghasilkan berlembar-lembar kain batik. Waktu pengerjaan yang dilakukan untuk membuat batik pun beragam, bahkan ia mengaku ada batik yang membutuhkan waktu pembuatan selama 2-3 tahun. Hal ini disebabkan ada beberapa gagasan yang agak sulit diwujudkan atau dilukiskan.

“Bagi saya, membuat batik itu bukan untuk tujuan komersil, tapi merupakan sebuah pengabdian, sebuah proses perjalanan sekaligus aktualisasi diri,” jelasnya.

Tak terhitung sudah berapa banyak kain batik yang dihasilkannya selama ini. Sebagian besar batik buatannya digunakan untuk pameran batik, karena dengan mengikuti pameran Nia merasa mendapatkan “kado” berupa teknik baru membatik. “Batik adalah guru, dan sampai saat ini saya masih terus belajar berbagai teknik batik yang baik, dan membuat motif-motif barunya,” terangnya.

Ketika menghasilkan berbagai kreasi batik di sanggar, tujuan mulia Nia adalah memperkenalkan batik lebih jauh kepada semua orang, baik anak-anak maupun orangtua. “Saya pernah mengajar batik untuk anak usia delapan tahun sampai orangtua berusia 83 tahun. Dan, mereka semua bisa melakukannya dengan baik. Ini berarti sebenarnya semua orang bisa melakukannya, hanya saja perlu keseriusan dan keinginan kuat dari dalam diri,” bebernya.

Ketika batik sudah diakui dunia sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, Nia menganggap seluruh masyarakat Indonesia memiliki tanggung jawab yang besar untuk melestarikan batik. “Batik merupakan harta karun Indonesia yang harus dipelihara dan dijaga, karena Indonesia punya sejarah tekstil yang unggul di dunia. Bukan tak mungkin suatu saat batik akan menjadi tren mode dunia jika Indonesia terus memeliharanya,” pungkas perempuan yang sudah 29 tahun menetap di Indonesia ini.

Jika warga Amerika saja konsisten untuk memajukan dan mengeksplorasi kekayaan batik Indonesia agar semakin maju, mengapa kita sebagai warga negara Indonesia enggan menjaga kelestarian batik?

Dikutip dari:
http://female.kompas.com/read/2012/02/23/14492648/Nia.Fliam.27.Tahun.Mengabdi.Batik.Indonesia

shareSeriale Online

Tentang Batik Banyuwangi

Jual Batik Gajah Oleng Khas Banyuwangi, Desain Modern dan Menawan Hubungi: Bpk. Cucuk Rustandi | 081 358 00 5678
Pos ini dipublikasikan di Informasi dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s